Misdinar Vianney

Selasa, 31 Juli 2012

Belajar Dari Semut




Suatu hari Raja Daud mengajak Salomo anaknya menemaninya berjalan-jalan di taman istana. Setelah letih berkeliling duduklah dia di bawah sebuah pohon rindang. Dilihatnya Salomo sedang asik memandangi sesuatu. Rasa penasaran Daud mendorongnya untuk menghampiri Salomo. "Anak ku apa yang sedang engkau lihat?" tanya sang ayah.

Suatu hari Raja Daud mengajak Salomo anaknya menemaninya berjalan-jalan di taman istana. Setelah letih berkeliling duduklah dia di bawah sebuah pohon rindang. Dilihatnya Salomo sedang asik memandangi sesuatu. Rasa penasaran Daud mendorongnya untuk menghampiri Salomo. "Anak ku apa yang sedang engkau lihat?" tanya sang ayah.

"Oh lihatlah ayah sekawanan semut itu, mereka begitu sibuk mengangkat daun menuju sarang. Untuk apa sebenarnya daun-daun itu?" tanya Salomo kepada ayahnya.

"Daun itu adalah makannya, anakku. Ini adalah musim dimana mereka biasa mengumpulkan makanan, untuk bekal ketika salju mulai turun menutupi bumi." Jawab Daud.

"Lihatlah mereka begitu kecil tapi sanggup mengangkat daun yang begitu besar, bahkan jauh lebih besar dari tubuh mereka sendiri. Ternyata semut tidak selemah yang aku kira selama ini." Sambung Salomo. Dia tampak begitu heran dan kagum dengan pemandangan yang sedang dilihatnya.

"Yah itulah Kuasa Tuhan, bahkan binatang yang paling lemah diberikan Tuhan kekuatan melebihi yang lain. Tuhan itu adil. tahukah kamu anakku, semut yang kecil ini sanggup mengangkat beban yang bahkan 10 kali lebih berat dari tubuhnya. Seekor gajah yang paling besarpun tidak akan sanggup menandingi kekuatan seekor semut. Anakku, jangan pernah sekalipun engkau meremehkan mereka yang tampak lemah. Belajarlah dari semut! Jika engkau nanti menjadi seorang raja". Jawab Raja Daud.

"Engkau tahu berapa lama mereka akan mengangkat makanan-makanan itu?" tanya Raja.

"Entah ayah, mungkin sampai nanti sore". Jawab Salomo.

"Tidak nak, tidak seperti itu. Mereka akan terus bekerja mengumpulkan makanan hingga musim dingin tiba. Lihatlah bagaimana mereka bekerja! Mereka seakan tidak pernah lelah. Tidak ada yang diam, tidak ada yang tampak sedang asik bersantai bukan?" sambung Raja Daud.

"Ya, ayah benar. Mereka semua bekerja! Tapi Ayah, mungkinkah karena mereka takut akan dihukum jika tidak bekerja? mungkin ada yang sedang mengawasi mereka bekerja." Salomo mencoba mengajukan argumennya.

"Tidak, tidak ada yang mengawasi, semut bukan budak dari siapapun. Semut hanya memiliki seorang ratu yang bertugas melahirkan para semut, sedangkan sebagian besar semut adalah jenis pekerja dan sisanya adalah semut prajurit yang bertugas menjaga koloni dan ratu mereka. Tapi tidak untuk mengontrol para pekerja." Jawab Raja Daud.

"Anak ku, jika engkau mau merenungkannya, engkau bisa belajar banyak dari kehidupan para semut." Sambung Raja Daud.

"Apakah itu ayah, katakanlah supaya aku ini mengert." Pinta Salomo.

"Baiklah, supaya engkau tahu, semut adalah binatang yang bijaksana, yang menyadari bahwa untuk segala sesuatu ada masanya. Mereka menyadari ada waktu untuk mengumpulkan dan bekerja serta ada waktu untuk beristirahat. Ketika masa untuk bekerja datang, mereka akan menggunakannya untuk mengumpulkan bekal makanan. tak satupun dari mereka yang berusaha mencuri waktu untuk bersantai dan bersenang-senang. Karena mereka sadar ketika musim dingin tiba, mereka akan dapat beristirahat di dalam sarangnya yang hangat, semua beristirahat, tidak ada yang bekerja. Mereka makan dan minum, berpesta sambil menanti datangnya musim semi."

"Yang kedua, sebagai semut, mereka tahu bagaimana hidup dalam bersama dalam komunitasnya. Setiap semut paham akan tugas dan perannya masing masing. Mereka menjalankan tugasnya dengan setia. Mereka tidak perlu dipaksa dan tidak perlu didikte. Mereka tetap bekerja tanpa perlu diawasi. Tiap-tiap semut akan melakukan tugasnya dengan sukarela dan sungguh-sungguh. Yang satu tidak iri dengan yang lain. Selain rajin, semut adalah binatang yang memiliki integritas tinggi."

"Anakku jika engkau nanti menjadi seorang raja yang akan memimpin bangsamu, ajaklah rakyatmu belajar dari para semut." Sambung Sang Daud.

Tak terasa hari semakin siang. Matahari sudah berada tepat di atas kepala. Digandengnya tangan Salomo. "anak ku sudah saatnya untuk pulang. Masih cukup waktu untuk kamu bisa merenungkannya nanti."

Ya masih banyak waktu bagi kita untuk merenungkan, betapa tidak sempurnanya kita sebagai manusia, hingga masih harus belajar dari para semut.

Pesan
1. Dalam kehidupan berorganisasi di misdinar ada saatnya kita melayani Tuhan di altar dan ada waktunya kita bersenang-senang bersama berkumpul dalam acara tertentu, namun harus di ingat tugas kita sebagai misdinar adalah melayani Tuhan dengan hati senang dan tanpa paksaan.

2. Setiap pengurus maupun anggota dalam organisasi misdinar menjalankan tugasnya tanpa harus di suruh melainkan secara sukarela, tanpa di awasi apa lagi iri dengan pengurus yang lain.


Semobga bermanfaat..
Salam Tarsisius 

Minggu, 23 Oktober 2011

Kasih Untuk Ujang

(disarankan membaca kisah ini sambil mendengarkan lagu -seperti yang Kau ingini-)
seperti yang kau ingini

kalau saja sore itu aku ngga ikut acara yang diadakan OMK wilayah di gerejaku ke Cibodas, mungkin aku ga akan kenal dia. mengenalnya merupakan salah satu anugerah buat aku. aku belajar banyak hal dari dia, belajar tentang HIDUP ! meski usianya baru 8 tahun..

aku sangat senang ikut serta dalam acara ini, meski disisi lain ada yang membuatku tidak senang. tapi paling engga dengan adanya Ujang (nama bocah kecil itu) aku bisa sejenak melupakan ketidaksenanganku itu..

awalnya karna bete, cape, kesel harus jalan jauh, akhirnya aku memutuskan untuk berjalan pelan-pelan dibelakang.
sewaktu sedang berjalan, tanpa sengaja aku melihat bocah kecil yang kumuh sedang menawarkan jasa kesalah seorang pengunjung di Cibodas.

"Hei, ngapain sih ngikutin aja? saya kan udah bilang kalau saya ga perlu dibantuin !!" bentak salah seorang pengunjung yang kesal melihat aksinya

dia hanya menatap pemilik suara tersebut lalu berjalan menjauh. dia hanya sendiri. hati kecilku bertanya, "kemana orang tua anak ini?"

dengan jalan agak cepat, dan sengaja berjalan melewati bocah itu dengan tujuan supaya bocah itu beralih kepadaku dan menawarkan jasanya..

dan benar. setelah melihatku berjalan melewatinya dengan menenteng sepasang sendal ditangan, dia lalu berjalan, dengan langkah yang semangat sambil bernyanyi dan tiba-tiba berhenti didepanku. aku spontan menghentikan langkah kakiku. dia tersenyum manis

"mba kenapa ? capek ya? mba mau saya bantuin bawa barangnya ga?"

astaga! ramahnya bocah ini. tapi ya itu memang sudah menjadi keharusannya untuk ramah kepada setiap pengunjung.

"mba !!" sapanya membuyarkan lamunanku..

aku tersenyum kepadanya

"mba namanya siapa? " tanyanya dengan senyuman manis yang menimbulkan lesung pipi di ujung kedua sisi bibirnya

"saya Marheni Widyaningrum, km bisa panggil saya...."

"Mar?" potongnya cepay

aku hanya menganggukan kepalaku

"mba mar mau ga saya bantuin bawa barangnya? mba ga cape emang?"

"cape sih, tapi ini kan cuma sendal"

"gapapa mba, sini saya bawain. mba mar mau bayar saya 1000 aja gapapa kok. saya belum dapet uang seharian ini."

Tuhan...
betapa mirisnya hati ini, mendengar pengakuan dari seorang bocah kecil yang manis ini. seharian naik turun dicibodas, dan kalau dirasakan perjalanan untuk naiknya itu bisa dibilang ga main-main. melelahkan !! dia yg seharian ini turun naik belum mendapatkan uang sepeserpun !!
akhirnya aku menerima penawaran dari bocah ini dengan menyuruhnya membawa sendalku. ;)

"kamu tinggal dimana?"

"diatas sana, dekat air terjun mba, bagus deh. nanti kalau mba naik saya tunjukin rumah saya. mau kan?" ajaknya

"oke deh, tapi nanti kalau udah dirumah kamu, kamu kasih aku makanan ya. hehe"

"okelah kalau begitu, kalau cuma tape saya bisa kasih" ucapnya sambil tertawa

aku berjalan berdampingan dengannya

"menarilah dan terus tertawa, walau dunia tak seindah surga.."
suaranya yang merdu beralun menghiasi sore hari.

berhubung sebagian temanku tidak naik keatas, jadi aku pun juga terpaksa tidak ikut naik keatas..
sambil duduk dibawah pohon dan makan kacang yang aku bawa dari rumah, aku memakannya bersama dengan ujang dan temannya

"mba, saya tinggal disana sama nenek" ucapnya tanpa malu

entah kenapa aku menangis

"mba, ini foto nenek saya, kalau saya cari uang pasti ditemenin sama foto nenek"

aku mengambil foto yang dipegang ujang. disana terlihat seorang nenek tua sedang berdiri didepan gubuk kecil yg terbuat dari sisa seng bekas dan kayu tua yg membentuk seperti kotak besar.

"ini foto dimana?"

"itu rumah saya mba"

astaga ! nenek tua yang harusnya menikmati masa tuanya harus ada ditempat seperti itu?

tidak lama kemudian aku dipanggil oleh teman-teman karna masih ada kegiatan lain yang harus dilaksanakan karna hari sudah semakin sore.
sebelum beranjak pergi aku memberikan semua kacangku lalu mengambil uang kertas dari dompetku dan memberikannya.
tapi seketika aku terkejut karna ujang tidak mau menerima uang yang aku berikan.

"ga usah mba, kacangnya udah cukup kok"

aku memegang tangannya. diusianya yang masih kecil dia sudah harus merasakan kerasnya hidup ini, karena sudah terbiasa dengan yg dialaminya makanya dia ga merasa menderita. dia menikmati apa yang harus dijalaninya. dia bernyanyi, dia menari dan dia tersenyum
entah kenapa aku senang bisa bertemu dan berbagi kasih dengan ujang. yang pasti membuat aku bahagia adalah bisa melihat senyumannya. aku suka dengan kepolosannya