Misdinar Vianney

Tampilkan postingan dengan label Tata Liturgi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tata Liturgi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Maret 2013

Tata Cara Liturgi - Sabtu Suci (Malam Paskah)

A. Upacara Cahaya
1. Kata Pembukaan
    Seluruh misdinar membuat lingkaran mengelilingi lilin paskah
2. Pemberkatan Api
3. Pemberkatan Lilin Paskah
4. Perarakan
   * Misdinar yang bertugas membawa lilin paskah segera mangangkat lilin paskah dan berjalan ke depan
      pintu utama
   * Misdinar yang lain membuat barisan dengan urutan baris terakhir di paling depan
   * Setelah perarakan sampai di depan altar dan seluruh lilin misdinar telah menyala segera seluruh misdinar
      menyebarkan api dari lilin paskah ke semua umat
5. Pujian paskah
    * Lilin tetap menyala hingga pujian paskah selesai dan misidinar menuju tempat duduknya dan
       membawa bell

B. Liturgi Sabda
1. Bacaan Pertama - Bacaan ketujuh
    * Tiap doa seluruh misdinar  berlutut menghadap Tabernakel
    * Saat doa ketujuh misdinar yang bertugas membunyikan bell segera menuju ketempatnya.
2. Kemuliaan
    * Membunyikan bel dan lonceng.
    * Misdinar yang bertugas menyalakan lilin altar segera menyalakan lilin altar
3. Doa Pembukaan
4. Bacaan Epistola
    * Misdinar yang bertugas mendampingi lektor/lektris segera melakkuan tugasnya
5. Bacaan Injil
    Seluruh misdinar bangkin berdiri
6. Homili

C. Liturgi Babtis
1. Ajakan Berdo
2. Litani Para Kudus
    Seluruh misdinar turun dan kembali menyebarkan lilin ke umat.
3. Pemberkatan air Babtis
    (Lilin di padamkan)  Misdinar yang tadi membawa lilin paskah naik dan mengangkat lilin paskah.
    Bersama Imam mencelupkan lilin paskah ke air babtis.
4. Pemberkatan Air Suci
    Misdinar kembali mengambil api dan menyebarkannya ke umat
5. Pembaharuan Janji Babtis
    Pada saat ""Kini saudara-saudara akan di perciki.... " misdinar yang bertugas percikan segera naik dan
    menemani Imam.
6. Doa Umat
    Misdinar yang bertugas membawa turibulum & navikula dan penjemput persembahan segera melakukan
    tugasnya masing-masing.

D. Liturgi Ekaristi
1. Doa Persembahan
2. Doa Syukur Agung
    Saat Romo mengatakan "... bersama para malaikan dan malaikan agung..." semua misdinar jengkeng sersama. Baris Pertama mengambil lilin altar dan berdiri di kedua sisi Altar.
3. Konsekrasi
4. Bapa Kami
5. Anak Domba Allah
    Seluruh misdinar berlutut kecuali yang bertugas membawa turibulum & navikula naik ke depan meja
    altar untuk menyalakan api dari lilin altar
6. Persiapan Komuni
7. Komuni
8. Doa Sesudah Komuni
9. Pengumuman

E. Ritus Penutup
1.   Berkat Pengutusan / Berkat Penutup
2.   Perarakan Keluar

Baca Juga
Minggu Palma Kamis Putih  Jumat Agung Paskah Misa Mingguan

Tata Cara Liturgi - Jumat Agung

A. Ritus Pembukaan
1. Kata Pengantar
   * Perarakan masuk melalui pintu utama.
   * Saat Imam meniarapkan atau berlutut seluruh misdinar berlutut dan menundukan kepala dan hening
      sejenak..
   * Misdinar menuju ketempat duduknya masing-masing tanpa jengkeng maupun hormat
3. Doa Pembukaan

B. Liturgi Sabda
1. Bacaan Pertama.
   Seluruh Misdinar duduk.
2. Mazmur Tanggapan
3. Bacaan Kedua
4. Bait Pengantar Injil
   Seluruh misdinar bangkit berdiri
5. Bacaan Injil ( Pasio, Kisah Sengsara Tuhan Kita Yesus Kristus)
    Saat bacaan "Selesailah sudah" (Lihat Buku Pekan Suci Hal. 70) seluruh misdinar berlutut dan
    menundukan kepala menghadap salib
6. Doa Umat Meriah
   * Seluruh misdinar turun ke depan Altar dan berlutut di depan Altar.

C. Upacara Penghormatan Salib
   * Misdinar yang bertugas membawa salib utama menuju pintu utama untuk perarakan salib.
   * Saat menjawab "Marilah kita sembah" atau "Mari kita bersembah sujud kepada-Nya" seluruh misdinar
      berlutut.
   * Saat Salib utama sudah tiba di depan altar misdinar yang lainnya langsung membuat barisan hingga batas
      yang di tentukan untuk menyembah salib
   * Saat selesai misdinar yang bertugas membawa salib utama memberikan salib yang dia pegang ke
      temannya dan kemudian membereskan altar

D. Liturgi Ekaristi
1. Bapa Kami
   * Misdinar masuk dengan membawa lilin padam dan misdinar yang bertugas mengambil api di lilin altar
      segera melakukan tugasnya.
2. Doa Penutup
   Seluruh misdinar bankit berdiri

E. Ritus Penutup
1. Berkat Pengutursan / Berkat Penutup
2. Perarakan keluar ( Hening )

Baca juga:
Minggu Palma  Kamis Putih Sabtu Suci (Malam Paskah) Paskah

Tata Cara Litugi - Kamis Putih

A. Ritus Pembukaan
1.  Perarakan
2.  Kata Pengantar
3.  Tanda Salib
4.  Seruan Tobat
5.  Tuhan Kasihani Kami
     Misdinar yang bertugas membunyikan lonceng melakukan tugasnya
6.  Kemuliaan
7.  Doa Pembukaan

B. Liturgi Sabda
1.  Bacaan Pertama
     Misdinar yang bertugas mendampingi lektor/lektris melakukan tugasnya
2.  Mazmur Tanggapan
     Misdinar yang bertugas membawa turibulum & navikula keluar  menuju sakristi untuk mengambil
     turibulum & navikula.
3.  Bacaan Kedua
4.  Bait Pengantar Injil
     Seluruh misdinar bangkit berdiri
5.  Bacaan Injil
6.  Homili

C. Upacara Pembasuhan Kaki
     Misdinar yang bertugas membawa Air, handuk, air cadangan, baskom, celemek melakukan tugasnya

1.  Doa Umat
     Seluruh misdinar turun ke depan Altar.
     * Baris pertama - ketiga menjemput persembahan
     * Misdinar pembawa turibulum & navikula keluar mengambil turibulum & navikula di sakristi
     * Baris ke 5 perempuan tetap tinggal di atas untuk memindahkan sibori dari meja kreden ke Altar

D.  Liturgi Ekaristi

1.  Persembahan
     Menerima dan membawa persembahan ketempatnya: Piala di  letakan di Altar dan Ampul di letakan di
     meja kreden. Untuk  yang lainnya seperti: Sibori di letakan di Altar, buah dan bunga di letakan di depan
     atau disamping Altar
2  Doa Persembahan
3.  Doa Syukur Agung
     Saat Romo mengatakan "... bersama para malaikan dan malaikan agung..." semua misdinar jengkeng
     sersama.
     Baris Pertama mengambil lilin altar dan berdiri di kedua sisi Altar.
4.  Konsekrasi
     Misdinar yang bertugas membunyikan pletokan pada saat Konsekrasi sebagai pengganti gong
5.  Bapa Kami
6.  Anak Domba Allah
    Seluruh misdinar berlutut kecuali yang bertugas membawa turibulum & navikula naik ke depan meja altar
    untuk menyalakan api dari lilin altar
7.  Persiapan Komuni
8.  Komuni
9.  Doa Sesudah Komuni
     Seluruh misdinar berlutut di depan altar kecuali misdinar pembawa turibulum & navikula dan juga yang
     bertugas membawa Vilum langsung menuju sakristi untuk melakukan tugasnya.
10.  Pesiapan Perarakan Sakramen Mahakudus
      Setelah Doa penutup selesai seluruh misdinar bangkit berdiri.
     * Misdinar pembawa turibulum & navikula dan Vilum naik ke samping meja kreden
     * Misdinar pembawa salib dan lilin naik dan segera membuat barisan perarakan dan di ikuti oleh misdinar
        lainnya.

D. Perarakan Sakramen Mahakudus
Urutan Perarakan Sakramen Mahakudus: Turibulum, Navikula, Salib dan di apit lilin di kanan kiri, di ikuti misdinar lainnya kemudian Romo pembawa Sakramen Mahakudus.

Note:
Misa Pertama :
* Seletah selesai Perarakan Sakramen Mahakudus kembali menuju depan altar Romo meletakan kembali Monstran di altar.
* Misdinar pembawa salib dan lilin meletakan kembali salib dan lilin ketempat semula.
* Kemudian Jengkeng bersama dan keluar menuju Sakristi

Misa Ke-2:
* Perhentian terakhir Perarakan Sakramen Mahakudus di tempat  melakukan tuguran dan di lanjutkan dengan Doa sejenak di depan Sakramen Mahakudus
* Seluruh petugas liturgi keluar menuju sakristi kecuali misdinar pembawa salib menaruh kemabi salib kealtar.

Baca juga:
Minggu Palma  Jumat Agung Sabtu Suci (Malam Paskah) Paskah Misa Mingguan

Tata Cara Liturgi - Misa Minggu Palma

A. Ritus Pembukaan
1.   Perarakan .
Perarakan di muali dari Sakristi menuju pintu utam dengan urutan: Wirug, Dupa, Salib+Lilin(Lentera di kanan kiri) di sambung dengan baris 2 sampai baris terakhir.
2.   Tanda Salib.
3.   Kata Pengantar.
4.   Pemberkatan Daun Palma.
       Misdinar yg bertugas membawa bejana aspergil (Percikan) segera melaksanakan tugasnya.
5.   Bait Pengantar Injil.
6.   Bacaan Injil
7.   Homili Singkat.
8.   Perarakan menuju Gereja.
      Seletah sampai depan Altar, Romo memberkati Altar -> setelah selesai jengkeng bareng dan menuju
      tempat duduknya masing².
9.   Tuhan Kasihanilah Kami.
10. Doa Pembukaan.

B. Liturgi Sabda.
1.   Bacaan Pertama.
2.   Mazmur Tanggapan.
3.   Bacaan Kedua.
4.   Bait Pengantar Injil.
5.   Pasio.
      Setelah pembawa Pasio mengatakan "Setelah berkata demikian, Yesus Wafat." (Lihat Buku  Pekan Suci
      Hal. 33 (Untuk Tahun C) semua berlutut menghadap Salib dan hening sejenak.
6.   Doa Umat.
      Misdinar yang bertugas membawa wirug keluar menuju sakristi untuk mengambil wirug dan misdinar
      yang bertugas menjemput persembahan segera menuju pintu utama untuk menjemput persembahan.
7.   Persembahan.
      Membawa persembahan ketempatnya: Piala di letakan di Altar dan Ampul di letakan dimeja kreden.
      Untuk yang lainnya seperti: Sibori di letakan di Altar, buah dan bunga di letakan di depan atau
       di samping Altar.

C. Liturgi Ekaristi
1. Doa Persembahan.
2. Doa Syukur Agung.
    * Saat Romo mengatakan "... bersama para malaikan dan malaikan agung..." semua misdinar jengkeng
       bersama.
    * Baris Pertama mengambil lilin altar dan berdiri di kedua sisi Altar dan yang bertugas memukul gong
       naik ke samping gong.
3. Konsekrasi.
4. Bapa Kami.
    Baris pertama dan misdinar yang bertugas memukul gong turun dan jengkeng bersama. Kemudian baris
     pertama,baris kedua dan yang bertugas wirug keluar menuju sakristi untuk mengambil lentera.
5. Anak Domba Allah.
   Semua misdinar berlutut di depan altar kecuali misdinar yang membawa lentera.
6. Persiapan Komuni.
    Setelah semua misdinar selesai berdoa, seluruh misdinar bangkit berdiri dan pergi menuju tempat
    komuni untuk menemani romo, prodiakon maupun suster.
7. Doa Sesudah Komuni.
    Semua misdinar bangkit berdiri.
8. Pengumuman.

D. Ritus Penutup
1.   Berkat Pengutusan / Berkat Penutup.
2.   Perarakan Keluar.
      Saat lagu syukur/lagu penutup semua misdinar turun ke depan altar dan jengkeng bersama semua
      petugas liturgi dan keluar menuju sakristi..


Baca Juga:
Kamis Putih  Jumat Agung Sabtu Suci  Paskah  Misa Mingguan

Minggu, 13 Januari 2013

Busana Liturgi 2


SUPERPLI

Istilah superpli berasal dari bahasa Latin “superpellicium” yang artinya “di atas dada”. Superli adalah pakaian luar seperti rok yang berwarna putih, panjangnya sampai di atas lutut dan memiliki lengan baju yang lebar; terkadang dengan renda-renda di bagian lengan dan lipatannya. Superpli dipakai oleh imam atau diakon dalam rangka ibadat atau perayaan liturgi di luar misa, seperti adorasi, ibadat tobat, mengantar Komuni, dan ibadat-ibadat lain. Superpli merupakan pengganti alba. Tapi, tidak boleh sembarangan memakai superpli. Kalau pelayan mengenakan kasula atau dalmatik, ia harus mengenakan alba, tidak boleh menggantikan alba dengan superpli. Superpli bisa juga dikenakan oleh siapa saja yang bertugas dalam liturgi, termasuk para broeder, frater dan misdinar.



PLUVIALE

Arti harafiah pluviale ialah mantel hujan. Pluviale yang dipergunakan dalam liturgi merupakan kain mantel besar, indah, yang dikalungkan pada leher dari belakang dengan kancing rantai dari kedua sudut atas mantel. Dalam liturgi, pluviale dipakai oleh uskup atau imam pada perayaan liturgi di luar Perayaan Ekaristi, seperti prosesi, adorasi atau astuti, pemberkatan dengan Sakramen Mahakudus, pemberkatan mempelai tanpa misa kudus atau upacara pemberkatan lain.



VELUM

Velum merupakan sebutan bagi kain segi empat sepanjang 2-3 meter dan lebarnya sekitar 60 cm, berwarna putih atau kuning atau emas dengan hiasan indah, memiliki rantai kancing pada kedua ujung yang dapat dicantelkan di depan dada. Velum yang berarti kain selubung ini digunakan dengan cara dikalungkan dari belakang dan dikenakan pada punggung. Velum digunakan oleh imam atau diakon untuk menyelubungi pegangan monstrans yang berisi Sakramen Mahakudus dalam rangka prosesi Sakramen Mahakudus atau pemberkatan umat dengan Sakramen Mahakudus. Memang unsur busana ini tidak dipakai dalam Perayaan Ekaristi, namun sangat berkaitan dengan Sakramen Ekaristi, yakni dalam adorasi atau penghormatan kepada Sakramen Mahakudus. Kain semacam itu biasanya dihiasi. Namun ada juga yang tanpa hiasan, namun dipakai untuk membawa tongkat gembala dan mitra uskup, ketika seorang uskup memimpin Perayaan Ekaristi meriah. Velum untuk tongkat dan mitra uskup biasanya berwarna putih saja.


DALMATIK

Dalam Perayaan Ekaristi, busana khusus bagi imam selebran ialah kasula; busana khusus bagi diakon ialah Dalmatik. Bentuk dalmatik agak mirip kasula, tetapi berbeda juga, sebab ujung dalmatik biasa dibuat persegi atau bersudut (pada kasula tidak) dan motif hiasan berupa garis-garis salib besar. Dalmatik dikenakan setelah stola diakon. Ini adalah busana resmi diakon tatkala bertugas melayani dalam Misa, khususnya yang bersifat agung / meriah. Tetapi, kalau tidak perlu atau dalam perayaan liturgi yang kurang meriah, diakon tidak harus mengenakan dalmatik. Busana ini melambangkan sukacita dan kebahagiaan yang merupakan buah-buah dari pengabdiannya kepada Allah. Warna atau motif dalmatik disesuaikan dengan kasula imam yang dilayaninya pada waktu Misa.



STOLA DIAKON

Sama dengan stola imam, hanya cara mengenakannya yang berbeda. Imam mengenakan stola dengan cara mengalungkannya pada leher, dua ujung stola dibiarkan menggantung. Diakon mengenakan stola dengan cara menyilangkannya dari pundak kiri ke pinggang kanan. Karena stola merupakan tanda jabatan kepemimpinan liturgi resmi, maka stola hanya boleh dikenakan oleh para pelayan yang ditahbiskan, yaitu uskup, imam dan diakon.

sumber : 1. “Simbol-Simbol Sekitar Perayaan Ekaristi: Busana Liturgis”; Pamflet Liturgi M3 Mengalami, Merawat, Menarikan Liturgi; diterbitkan oleh ILS

Busana Liturgi Dan Doa


      AMIK, Tanda Perlindungan

Amik adalah selembar kain lenan putih berbentuk segi empat dengan dua tali panjang di dua ujungnya. Imam mengenakannya sekeliling leher, menutupi bahu dan pundak, menyilangkan kedua tali di depan (membentuk salib St Andreas), dan lalu membawa tali ke belakang punggung, melilitkannya sekeliling pinggang dan mengikatkannya dengan suatu simpul. Tujuan praktis amik adalah untuk menutupi jubah biasa imam, dan untuk menyerap keringat dari kepala dan leher. Di kalangan Graeco-Romawi, amik adalah penutup kepala, seringkali dikenakan di bawah topi baja para prajurit Romawi untuk menyerap keringat, dengan demikian mencegah keringat menetes ke mata. Tujuan rohani amik adalah mengingatkan imam akan nasehat St Paulus, “Terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah” (Ef 6:17).

Doa ketika mengenakan amik:
“Tuhan, letakkanlah pelindung keselamatan pada kepalaku untuk menangkis segala serangan setan.”

      ALBA, Citra Kekudusan

Alba adalah pakaian putih panjang hingga sebatas pergelangan kaki, dan memiliki lengan panjang hingga pergelangan tangan. Kata “alba” dalam bahasa Latin artinya “putih”. Alba adalah pakaian luar yang umum dikenakan di kalangan Graeco-Romawi dan mirip dengan soutane yang dikenakan di Timur Tengah. Tetapi, mereka yang berwenang mengenakan alba dengan kualitas yang lebih baik dengan aneka sulaman atau gambar. Beberapa alba modern memiliki kerah sehingga amik tidak diperlukan lagi. Tujuan rohani alba adalah mengingatkan imam akan pembaptisannya, saat kain putih diselubungkan padanya guna melambangkan kemerdekaannya dari dosa, kemurnian hidup baru, dan martabat Kristiani. Di samping itu, Kitab Wahyu menggambarkan para kudus yang berdiri sekeliling altar Anak Domba di surga sebagai“Orang-orang yang keluar dari kesusahan yang besar; dan mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba” (7:14). Demikian pula imam wajib mempersembahkan Misa dengan kemurnian tubuh dan jiwa, dan dengan kelayakan martabat imamat Kristus. Di beberapa negara tropis, termasuk Indonesia, jika tidak ada alba, maka dapat dipakai jubah yang berwarna putih.

Doa ketika mengenakan alba:
“Sucikanlah aku, ya Tuhan, dan bersihkanlah hatiku, agar aku boleh menikmati kebahagiaan kekal karena telah dibasuh dalam darah Anak Domba.”

      SINGEL, Tali Kesucian

Singel adalah tali yang tebal dan panjang dengan jumbai-jumbai pada kedua ujungnya, yang diikatkan sekeliling pinggang untuk mengencangkan / merapikan alba. Singel merupakan simbol nilai kemurnian hati dan pengekangan diri. Singel dapat berwarna putih atau sesuai dengan warna masa liturginya. Di kalangan Graeco-Romawi, singel adalah bagaikan ikat pinggang. Tujuan rohani singel adalah mengingatkan imam akan nasehat St Petrus, Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus. Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu” (1 Pet 1:13-15).

Doa ketika mengenakan singel:
“Tuhan, kuatkanlah aku dengan tali kesucian ini dan padamkanlah hasrat ragawiku, agar kebajikan pengekangan diri dan kemurnian hati dapat tinggal dalam diriku.”

      STOLA, Lambang Penugasan Resmi

Stola adalah semacam selendang panjang, kira-kira 4 inci (± 10 cm) lebarnya, warnanya sama dengan kasula, yang dikalungkan pada leher. Stola diikatkan di pinggang dengan singel. Stola merupakan simbol bahwa pemakainya sedang melaksanakan tugas resmi Gereja, terutama menyangkut tugas pengudusan (imamat). Secara khusus, sesuai dengan doa ketika mengenakannya, stola dimaknai sebagai simbol kekekalan. Sebelum pembaharuan Konsili Vatikan Kedua, stola disilangkan di dada imam untuk melambangkan salib. Stola juga berasal dari budaya masa lampau. Para rabi mengenakan selendang doa dengan jumbai-jumbai sebagai tanda otoritas mereka. Stola yang disilangkan juga merupakan simbolisme dari ikat pinggang bersilang yang dikenakan para prajurit Romawi: satu ikat pinggang dengan pedang di pinggang, dan ikat pinggang lainnya dengan kantong perbekalan, misalnya air dan makanan. Dalam arti ini, stola mengingatkan imam bukan hanya pada otoritas dan martabatnya sebagai imam, melainkan juga tugas kewajibannya untuk mewartakan Sabda Allah dengan gagah berani dan penuh keyakinan(“Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun” Ibr 4:12) dan untuk melayani kebutuhan umat beriman. Sekarang, imam mengenakan stola yang dikalungkan pada leher dan ujungnya dibiarkan menggantung, tidak disilangkan. Stola yang sempit biasanya dikenakan di dalam kasula, sedangkan stola yang lebar dikenakan di atas kasula.

Doa ketika mengenakan stola:
“Ya Tuhan, kenakanlah kembali stola kekekalan ini, yang telah hilang karena perbuatan para leluhur kami, dan perkenankanlah aku meraih hidup kekal meski aku tak pantas menghampiri misteri-Mu yang suci.”

      KASULALambang Cinta dan Pengorbanan

Kasula, disebut juga planeta, adalah pakaian luar yang dikenakan di atas alba dan stola. Kasula merupakan busana khas imam, khususnya selebran dan konselebran utama, yang dipakai untuk memimpin Perayaan Ekaristi. Kasula melambangkan keutamaan cinta kasih dan ketulusan untuk melaksanakan tugas yang penuh pengorbanan diri bagi Tuhan. Selama berabad-abad model kasula telah mengalami beberapa perubahan dan variasi. Kasula berasal dari kata Latin “casula” yang artinya “rumah”; kasula di kalangan Graeco-Romawi serupa sebuah mantol tanpa lengan yang sepenuhnya menutupi tubuh dan melindungi si pemakai dari cuaca buruk. Tujuan rohani kasula adalah mengingatkan imam akan kasih dan pengurbanan Kristus, “Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan” (Kol 3:14).

Doa ketika mengenakan kasula:
“Ya Tuhan, Engkau pernah bersabda: `kuk yang Ku-pasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.' Buatlah aku sanggup mengenakan pakaian ini agar dapat memperoleh rahmatmu. Amin.”

Pada Abad Pertengahan, muncul dua interpretasi populer mengenai makna busana liturgis ini. Interpretasi yang paling umum menafsirkan busana liturgis sebagai simbol sengsara Yesus: kain yang digunakan prajurit untuk menutup muka-Nya (amik) dan jubah (alba) sementara Ia diolok-olok dan disesah; tali-temali dan belenggu (singel) yang membelenggu-Nya sepanjang penderaan; salib (stola) yang Ia panggul; dan jubah tak berjahit (kasula) yang atasnya para prajurit membuang undi. Interpretasi lain yang juga populer lebih berfokus pada busana itu dari asal-usulnya yang dari militer Romawi, yang dipandang sebagai simbol imam sebagai laskar Kristus yang berperang melawan dosa dan setan.

Pada intinya, busana-busana liturgis yang dikenakan dalam perayaan Misa memiliki dua tujuan utama. Pertama, “Gereja adalah Tubuh Kristus. Dalam Tubuh itu tidak semua anggota menjalankan tugas yang sama. Dalam perayaan Ekaristi, tugas yang berbeda-beda itu dinyatakan lewat busana liturgis yang berbeda-beda. Jadi, busana itu hendaknya menandakan tugas khusus masing-masing pelayan. Di samping itu, busana liturgis juga menambah keindahan perayaan liturgis” (Pedoman Umum Misale Romawi No. 335). Kedua, busana liturgis mengilhami imam dan semua umat beriman untuk merenungkan arti simboliknya yang kaya makna.


* Fr. Saunders is dean of the Notre Dame Graduate School of Christendom College in Alexandria and pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls.
sumber : “Straight Answers: Liturgical Vestments” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2001 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com
tambahan : “Simbol-Simbol Sekitar Perayaan Ekaristi: Busana Liturgis”; Pamflet Liturgi M3 Mengalami, Merawat, Menarikan Liturgi; diterbitkan oleh ILSKI (Institut Liturgi Sang Kristus Indonesia)
gambar : “Vestments” by Father Peffley; Father Peffley's Web Site; www.transporter.com/fatherpeffley
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

Minggu, 04 November 2012

Saat Misa Berapa Kali Kita Membuat Tanda Salib??

PENCERAHAN DARI BP. DANIEL PANE :

Pada umumnya tanda salib hanya 2 kali dalam Misa yaitu saat Tanda Salib di awal Misa dan berkat penutup. Ditambah dengan 3 tanda salib kecil dalam dialog yang mengawali bacaan Injil, serta jika pemercikan air suci diadakan. Di luar itu tidak perlu ada tanda salib.

Sesudah menerima Hosti, dan selama berdoa pribadi di Misa tidak perlu membuat Tanda Salib, karena seluruh Misa dari awal sampai akhir itu adalah satu rangkaian doa yang panjang. Doa dimulai saat Tanda Salib di awal dan diakhiri dengan berkat. Mungkin perlu diberi keterangan bahwa tidak perlu tidak sama artinya dengan tidak boleh.

Kebiasaan para Imam yang membuat tanda salib dalam khotbah, adalah kebiasaan warisan zaman dulu, ketika biasanya khotbah diletakkan sebelum atau sesudah Misa dimulai (kebiasaan yang cukup umum sebelum Vatikan II dan diadakan dengan alasan praktis misalnya lebih bebas memilih tema-tema khotbah). Karena khotbah diletakkan di luar Misa maka biasanya diawali dan diakhiri dengan tanda salib bahkan juga dengan doa pembukaan dan penutup sendiri. Kebiasaan ini terbawa-bawa sampai sekarang dan seringkali diikuti begitu saja oleh Imam-imam yang lebih muda (yang tidak pernah mengalami masa-masa itu).


PENCERAHAN DARI PASTOR ZEPTO PR :

Tentang TANDA SALIB dlm Perayaan Ekaristi.

Tanda salib PUBLIK yg dibuat oleh pemimpin (disertai ajakan publik) hanya DUA kali. Inilah tanda yg membuka dan mngakhiri ibadah.
Selain itu, pemimpin PE juga membuat tanda salib berkat (pada diakon sebelum mbacakan Injil), pada Evangeliarum, dan ketika Epiklesis dalam DSA. Khusus dlm DSA I, pada bagian tertentu imam membuat tanda salib pada dirinya sendiri (ketika mendoakan kata2: ...dipenuhi dengan segala berkat dan rahmat....).

Ada juga Tanda salib yg mrupakan SALAH KAPRAH. Artinya, tanda salib yg dipakai sdemikian meluas dari masa2 lampau padahal sebetulnya KURANG SESUAI dgn rubrik2 dlm buku liturgi resmi, lalu oleh sebagian besar umat dianggap 'itulah yg benar'.
Beberapa di antaranya:
A. Imam membuat 'tanda salib absolusi' pd bagian akhir ritus tobat (padahal pd bagian tsb TIDAK terjadi absolusi sakramental). Umat ikut2an men'jawab'nya dgn tanda salib juga. Bahkan ketika imam tidak lagi menyertakan 'berkat absolusi' tsb pd formula doa, toh (ada) umat buat tanda salib juga. "Sudah biasa, terasa puas lagi," kata mereka. Hehehe
B. Tanda salib mengawali dan menutup homili. Baik dengan maupun tanpa ajakan imam, toh umat tetap membuat tanda salib. Dalam buku Tata Perayaan Sabda, jelas2 ditulis pd rubrik: 'homili tidak dibuka dan ditutup dgn tanda salib'. Why? WKarena tanda salib tsb membentuk nivo bhw seolah-olah ada ibadah dalam ibadah.
C. Ketika air akan dicampurkan pd anggur, ada imam/diakon yg membuat berjat pd air. Pd konsekrasi roti, juga anggur, umat sering mbuat tanda salib yg tak ada dlm ritus resmi.


PENCERAHAN DARI PASTOR YOHANES SAMIRAN SCJ :

Agar tidak melahirkan "perasaan berdosa" karena pengertian benar dan salah yang berlebihan, bisa kita rumuskan begini:
Dalam satu kali Misa Kudus diawali dan diakhiri dengan "tanda salib". Artinya di tengah itu sebenarnya masih dalam suasana Misa kudus, dan dengan demikian sebenarnya tidak diperlukan tanda salib baru, karena misanya tidak ada pause.
Nah, dari rumusan tidak perlu - maka artinya kalau dibuat itu tidak menambah apa-apa, malahan salah-salah membuat kita salah mengerti dan menghayati misa kudus sebagai kesatuan utuh.

Nah, apakah dilarang membuat tanda salib di luar yang dua itu? Yah dilarang sih tidak, berdosa juga tidak .... tapi tidak perlu. Maka karena tidak perlu ... ya sebenarnya tidak perlu ditiru dan dianjurkan

(walau tidak sama, tetapi mungkin bisa kita bandingkan apakah saat sedang makan dilarang makan snack? atau dilarang pakai garpu dua?
Dilarang ya tidak, apalagi berdosa ya gak seberat itulah tapi kan ya gak perlu dan tidak banyak guna dan manfaatnya.
Kalau mau lihat buah negatifnya ya ANEH saja. :-)

Kredit: seputarliturgimisa

Rabu, 17 Oktober 2012

Mengapa pada saat "Yang dikandung dari Roh Kudus. Dilahirkan ole Santa Perawan Maria" membungkuk??


Pada saat Syahadat, AKU PERCAYA. Kan pada kata2 "YANG DIKANDUNG DARI ROH KUDUS. DILAHIRKAN OLEH SANTA PERAWAN MARIA" Umat harus membungkukkan badan. Namun saat gereja masih ada umat yang tidak membungkukkan badan entah cuek/tidak mengetahui maksud dan tujuannya. Oleh karena itu saya kutip pencerahan dari Rm. Yohanes Samiran SCJ. Yuk simak baik-baik.


PENCERAHAN DARI PASTOR YOHANES SAMIRAN SCJ :


Sikap membungkuk di Indonesia memang baru diperkenalkan dalam TPE baru (2005) dan sebenarnya telah jelas dicetak miring dan diberi penjelasan.

Sikap membungkuk adalah untuk memberikan penghormatan kepada 'penjelmaan Putra yang dikandung dari Roh Kudus - melalui (oleh) perawan Maria'.

Maka sikap hormat dan terimakasih atas karya agung Allah itu, pada Hari Raya Natal diungkapkan bukan hanya dengan membungkuk tetapi dengan berlutut.
Dengan sikap berlutut jelas sekali bahwa maksud tindakan hormat bukan pertama-tama kepada Maria, tetapi kepada Allah sendiri yang melakukan Karya Agung dalam diri Bunda Maria.

Mau perbandingan praktis, bisa kita lihat dalam praktik berlutut ke arah tabernakel, bukan untuk menghormati tabernakel sebagai tabernakel, tetapi hormat kepada DIA yang berdiam di dalam tabernakel itu.
Nah, (rahim) Maria adalah "tabernakel" pertama bagi Putra di dunia ini.


 Semoga bermanfaat

BERLUTUT - KE ARAH ALTAR ATAU TABERNAKEL ?

Apakah sudah di ketahui pada saat masuk ke gereja dan sebelum duduk, kita berlutut. Kemana arahnya, apakah ke Altar atau Tabelnakel??

Oke sekarang kita simak PENCERAHAN dari Pastor Liberius Sihombing

Bagaimana pun kita mesti tahu apa yg menjadi central (pusat) dari sebuah bangunan gereja. Yang menjadi pusat dalam gereja adalah Altar (bukan tabernakel). Dalam gereja bisa tdk ada tabernakal tetapi mesti ada Altar. Itu mesti dipahami. Maka  menurut paham liturgi, kita memberi hormat entah berlutut entah membungkuk di dalam gereja bukan terutama karena ada tabernakel yang adalah tempat penyimpanan hosti kudus. Tetapi karena adanya Altar tempat dimana Yesus Kristus hadir secara riil. Jadi bukan berarti kalau tidak ada tabernakel, maka cara penghormatan kita di dalam gereja mnjadi berkurang. Di banyak tempat (stasi) tdk tersedia tabernakel, jd bukan berarti kita tidak perlu berlutut di sana. Memperlakukan gereja mesti sama entah tanpa tabernakel atau dengan tabernakel. Pernah sy agak tersinggung melihat umat menghias gereja (kebetulan tdk ada tabernakel) untuk memasang hiasan natal di plafon mereka menggeser altar dan menginjaknya. Mereka memperlakukan altar seperti meja biasa dan dipakai jdi pijakan pengganti tangga. Bukankah altar itu 'piring' kita yg dari dalamnya kita langsung menerima Kristus? Maka untuk saya altar itu menjadi lebih tinggi dari tabernakel.

Singkatnya kita berlutut ataupun membungkuk ke arah altar karena di sana lah Yesus hadir secara nyata dalam perayaan Ekaristi.

Semoga bermanfaat

Sabtu, 15 September 2012

Apakah Katolik Menyembah Patung dan Bunda Maria?

Pembuatan Patung

Berikut ini adalah ayat dari kitab keluaran 20 : 3-5 yang sering digunakan untuk menuduh bahwa katolik menyembah patung, padahal pembuatan patung dilarang.‎

3.Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. 4.Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. 5.Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, Tuhan, Allahmu, adalah Allah yang cemburu yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci aku.
3.You shall not have other gods besides me (NAB, CCB); no other gods before me(RSV, NIV, KJV); 4.You shall not carve idols (NAB); a graven image (RSV); any graven image (NIV, KJV); a carved image (CCB) for yourselves in the shape of anything in the sky above or on the earth below or in the waters beneath the earth; 5.you shall not bow down (NAB, RSV, NIV, KJV, CCB) before them or worship them: for I the LORD your God am a jealous God, visiting the iniquity of the fathers upon the children to the third and the fourth generation of those who hate me.
Catatan: NAB= New American Bible; RSV= Revised Standard Version; NIV= New International Version; CCB= Christian Community Bible.

Kata patung tersebut dalam bahasa inggris adalah carved idols atau graven image, dimana artinya adalah patung berhala.
Nah, kalo dilihat konteksnya maka yang tidak diperbolehkan adalah membuat patung untuk dijadikan berhala atau disembah. Lalu apakah boleh membuat patung namun tidak disembah? Tentu saja tidak ada masalah, Tuhan sendiri memerintahkan untuk membuat patung seperti yang terlihat dari ayat berikut :

Kel 25:18-19 : Dan haruslah kaubuat dua kerub dari emas, kaubuatlah itu dari emas tempaan, pada kedua ujung tutup pendamaian itu. Buatlah satu kerub pada ujung sebelah sini dan satu kerub pada ujung sebelah sana; seiras dengan tutup pendamaian itu kamu buatlah kerub itu di atas kedua ujungnya.
Bil 21:8 : Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup.”

Jadi, jelas bahwa umat katolik membuat patung tidak untuk disembah, melainkan mereka menghormati apa yang digambarkan oleh patung tersebut (misalnya para kudus atau Bunda Maria). Hanya Allah yang boleh disembah.


Berdoa Melalui Perantaraan Bunda Maria
Umat Katolik tidak pernah menyembah Bunda Maria, dan tidak ada satupun ciptaan yang bisa disejajarkan dengan Yesus Kristus yang adalah Allah.  Katekismus Gereja Katolik menjelaskan :

970 Adapun “peran keibuan Maria terhadap umat manusia sedikitpun tidak menyuramkan atau mengurangi pengantaraan Kristus yang tunggal itu, melainkan justru menunjukkan kekuatannya. Sebab segala pengaruh santa Perawan Maria yang menyelamatkan manusia … berasal dari kelimpahan pahala Kristus. Pengaruh itu bertumpu kepada pengantaraan-Nya, sama sekali tergantung daripadanya, dan menimba segala kekuatannya daripadanya” (LG 60). “Sebab tiada satu mahkluk pun yang pernah dapat disejajarkan dengan sabda yang menjelma dan Penebus kita. Namun seperti imamat Kristus secara berbeda-beda ikut dihayati oleh para pelayan (imam) maupun oleh umat beriman, dan seperti satu kebapakan Allah dengan cara yang berbeda-beda pula terpancarkan secara nyata dalam mahkluk-mahkluk, begitu pula satu-satunya pengantaraan Penebus tidak meniadakan, melainkan membangkitkan pada mahkluk-mahkluk aneka bentuk kerja sama yang berasal dari satu-satunya sumber” (LG 62).

Alasan mengapa kita berdoa melalui perantaraan Bunda Maria sama dengan alasan kita berdoa melalui para Kudus, yang bisa dibaca di artikel ini (silakan klik).

 Kredit: http://luxveritatis7.wordpress.com

Mengapa Berdoa Melalui Para Kudus dan Mendoakan Arwah ?

Dasar Biblis : Berdoa melalui Perantaraan Para Kudus

Ketika Ia mengambil gulungan kitab itu, tersungkurlah keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Anak Domba itu, masing-masing memegang satu kecapi dan satu cawan emas, penuh dengan kemenyan: itulah doa orang-orang kudus. (Wahyu 5:8)

Maka datanglah seorang malaikat lain, dan ia pergi berdiri dekat mezbah dengan sebuah pedupaan emas. Dan kepadanya diberikan banyak kemenyan untuk dipersembahkannya bersama-sama dengan doa semua orang kudus di atas mezbah emas di hadapan takhta itu. Maka naiklah asap kemenyan bersama-sama dengan doa orang-orang kudus itu dari tangan malaikat itu ke hadapan Allah. (Wahyu 8: 3-4)

Orang Katolik yakin Orang Kristen yg telah meninggal sungguh hidup bersama Kristus. Tuhan Yesus telah mengaruniakan hidup kekal kepada mereka yang telah makan Tubuh dan Darah Kristus (dalam Ekaristi) seperti yang dijanjikannya dalam Yoh 6:35, 48, 51, 53-58, “…Jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu…. Barang siapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.” Jadi dalam pengertian ini, Para Kudus yang meninggal dalam Kristus tersebut, sesungguhnya lebih “hidup” dari pada kita, sebab mereka telah bersatu dengan Sang Hidup itu sendiri yaitu Kristus, di surga.

Gereja Katolik tidak membatasi bahwa pengertian “orang kudus” ini hanya terbatas pada orang-orang yang masih hidup di dunia. Orang kudus yang meninggal dalam Kristus, tidak berhenti menjadi orang kudus setelah ia memasuki hadirat Allah yang ilahi. Para Orang Kudus yang sudah meninggal dan masuk Surga ini juga merupakan bagian dari Gereja yang Satu. Mereka tetap menjadi anggota Tubuh Kristus [yang satu] oleh karena jasa Yesus Kristus sebagai Kepalanya. Jadi keanggotaan mereka dalam Gereja tidak berhenti dgn kematian.

Itulah alasan doa-doa dari orang Kudus masih tetap dimohonkan, sebagaimana kita meminta didoakan oleh orang-orang Kristen yg masih hidup. Itulah alasan kenapa kami berdoa kepada Maria dan kepada Orang-Orang Kudus yg telah meninggal. Mereka meminta Orang-Orang Kudus ini mendoakan mereka kepada Allah. Jika kita semua setuju bahwa mereka sungguh hidup bersama Kristus, maka mereka dapat berdoa untuk kita kepada Allah sepanjang waktu.
“Hendaklah kamu saling mendoakan….doa orang yg benar, sangat besar kuasanya” (Yak 5:16; bdk. Why 8:3-4)

Apakah kamu mengatakan bahwa tidak memerlukan siapa-siapa selain Tuhan? Jika iya maka kamu pasti lebih hebat daripada Yesus sendiri. Bahkan Yesus sendiri pun menyediakan diri-Nya untuk dilayani oleh para Kudus dan Malaikat (Mat 4:11, Luk 22:43, Mrk 9:2)

Dasar Biblis dan Bapa Gereja : Mendoakan orang yang telah meninggal
2 Timotius 1 : 16-18
16. Tuhan kiranya mengaruniakan rahmat-Nya kepada keluarga Onesiforus yang telah berulang-ulang menyegarkan hatiku. Ia tidak malu menjumpai aku di dalam penjara. 17. Ketika di Roma, ia berusaha mencari aku dan sudah juga menemui aku. 18. Kiranya Tuhan menunjukkan rahmat-Nya kepadanya pada hari-Nya. Betapa banyaknya pelayanan yang ia lakukan di Efesus engkau lebih mengetahuinya dari padaku.
Santo Paulus berdoa untuk Onesiforus, kawannya yang telah meninggal dunia, yang hanya bermakna jika ia ditolong dengan doa.
1Kor 15:29
Jika tidak demikian, apakah faedahnya perbuatan orang-orang yang dibaptis bagi orang mati? Kalau orang mati sama sekali tidak dibangkitkan, mengapa mereka mau dibaptis bagi orang-orang yang telah meninggal?
Dalam argumennya tentang kebangkitan badan, Santo Paulus menyebut (tanpa niat mengutuk atau menyetujui) praktik orang-orang yang mau dibaptis demi orang-orang yang telah meninggal, yang tidak bisa dibantu jika tidak ada “kondisi antara” untuk pemurnian.
Singkatnya, jika orang-orang Yahudi, Santo Paulus, dan orang-orang kristen perdana mendoakan orang mati, kita tidak perlu takut untuk juga mendoakan mereka yang telah mendahului kita. Mendoakan orang mati mengandaikan adanya kondisi antara, yakni kondisi pemurnian, apa pun namanya. Umat Katolik menyebutnya api penyucian.
==============================
Penjelasan dikutip dari buku Pembelaan Iman Katolik 1, oleh Frank Chacon dan Jim Burnham.
Berikut ini tulisan Bapa Gereja mengenai praktek berdoa bagi arwah orang yang sudah meninggal :

St. Ambrosius dari Milano (333-397)
Jika doaku terkabulkan, kalian berdua, Gratius dan Valentinianus (dua kaisar yang wafat waktu itu) akan bahagia. Bagi kalian tidak ada hari yang terlupakan. Tak ada doa yang lupa kupanjatkan bagi kehormatan kalian. Tidak akan ada malam yang kulewatkan tanpa memanjatkan doa bagi kalian. Pada setiap pengurbanan, aku akan ingat pada kalian. (De obitu Valent. N.78. ML 16, 1381)

St. Agustinus dari Hippo (354-430)
Doa Gereja sendiri atau doa masing-masing umat beriman bagi beberapa saudara yang sudah meninggal dunia, dikabulkan. Itulah doa untuk mereka yang dilahirkan kembali dalam Kristus, padahal hidupnya di dunia tidak begitu jelek, sehingga dianggap tidak pantas menerima belaskasihan, namun juga tidak begitu bagus, sehingga mereka dianggap tidak memerlukan belas kasihan itu. (De. Civ. Dei. 21, 24, 2. ML 41, 739)

Pesan St. Monika kepada St. Agustinus sebagaimana ia catat di buku Pengakuan (Confessiones)
Kuburkan badanku ini dimana kau kehendaki; janganlah merpeotkan kamu. Hanya inilah yang kuminta, agar kamu, dimana kau berada mendoakan aku di Altar Tuhan (Conf. I. 9. c. II, 27. ML 32, 775)

Kredit: http://luxveritatis7.wordpress.com